Susah

Susah ‘Tahan Lama’ di Ranjang? Ilmuwan Inggris Buatkan Penangkal Barunya

London, Bagi pria, performanya di atas ranjang menentukan seberapa besar kejantanan yang ia miliki. Itulah mengapa ketika gangguan seperti ejakulasi dini terjadi, kebanyakan pria akan stres karenanya. Beruntung baru-baru ini peneliti Inggris menemukan obat baru yang jos untuk mengatasi ejakulasi dini.

Berbeda dengan obat ejakulasi dini pada umumnya, pil ini diklaim dapat mencegah pria mengalami ejakulasi dini dengan memfokuskan diri pada hormon yang disebut oksitosin. Hormon inilah yang membuat pria mudah terangsang, ereksi bahkan hingga ejakulasi ketika disentuh pasangannya.

“Jadi ketika diminum, obat yang sementara ini disebut ‘antagonis-oksitosin’ itu akan langsung menghentikan aktivitas oksitosin di dalam sel tubuh. Dan bila kinerja oksitosin ini berhasil dihentikan, secara otomatis ejakulasi akan tertunda,” kata peneliti seperti dikutip dari ixchelsis.com, Rabu (17/9/2014).

Menurut produsennya, Ixchelsis dari Inggris, setidaknya obat alternatif untuk ejakulasi dini ini memiliki efek samping lebih sedikit dari yang sebelumnya. Misalkan antidepresan yang konon dapat menurunkan gairah pria tapi memiliki efek samping seperti mual, pusing, insomnia dan pening.

Obat lain yang dirancang khusus untuk mengatasi ejakulasi dini, dapoxetine juga tidak cocok digunakan para pria yang punya gangguan jantung, ginjal atau liver, serta memperlihatkan efek samping seperti sakit kepala dan mual.

Ixchelsis sendiri mengaku telah mengujicobakan produk mereka ini di Universite de Versailles-Saint Quentin, Prancis dengan memanfaatkan hewan percobaan. Dan ini terbukti efektif menunda ejakulasi pada hewan-hewan tersebut.

Kini ‘antagonis-oksitosin’ tersebut tengah diujicobakan pada 90 pria berusia antara 18-60 tahun. Rencananya, percobaan yang akan memakan waktu hingga satu tahun lamanya digelar di sekitaran AS dan Australia. Masing-masing partisipan diminta mengonsumsi pil ini dalam dosis yang berbeda-beda antara 1-7 jam sebelum berhubungan intim.

“Obat ini tampaknya menarik, namun sebaiknya obat semacam ini dikombinasikan dengan psikoterapi. Karena kebanyakan ejakulasi dini itu bukan karena gangguan pada hormonnya, tapi lebih kepada gangguan mental dan pasien biasanya tak menyadari itu,” komentar Prof Raj Persad, dokter bedah urologi dari Bristol Royal Infirmary menanggapi terobosan baru ini.

 

Trackbacks and pingbacks

    No trackback or pingback available for this article.

    Leave a reply