Reaksi Otak Ketika Kita Melakukan Aktivitas Seksual

Reaksi Otak Ketika Kita Melakukan Aktivitas Seksual

Apa reaksi otak ketika kita melakukan aktivitas seksual? Aktivitas seks dan aktivitas otak memiliki keterkaitan yang erat. Seperti diketahui, ketika kita berhubungan intim, tubuh akan melakukan perilisan berbagai hormon penting yang bisa berdampak positif terhadap tubuh. Jika anda ingin mengetahui lebih lanjut keterkaitan diantara keduanya, kami akan membahasnya untuk anda. Seks bisa dibilang mirip dengan obat, meskipun keduanya tidak bisa ditukarkan. Obat memiliki kandungan kimia yang bisa mempengaruhi kinerja berbagai komponen di dalam tubuh.

Namun di sisi lain, penelitian sudah membuktikan bahwa ketika kita berhubungan intim, akan terjadi pelepasan dopamin yaitu sebuah neurotransmitter yang bisa mengaktifkan pusat reward otak. Tahukah anda bahwa pemakaian kokain menyebabkan reaksi yang hampir sama dengan berhubungan intim? Meskipun keduanya tidak berkorelasi secara langsung, tapi seks akan membuat anda merasa lebih tenang, sama ketika anda mengkonsumsi obat-obatan penenang.

Menenangkan pikiran

Seks juga bisa berfungsi sebagai antidepresan. Ini ada kaitannya dengan zat-zat kimia yang terkandung di dalam sperma. Sperma dibentuk oleh berbagai zat, seperti diantaranya adalah prostaglandin dan estrogen. Keduanya memiliki sifat antidepresan, jadi ketika kita berhubungan intim, secara otomatis zat-zat yang terdapat di dalam sperma akan masuk atau diserap oleh wanita. Ini tentu saja baik bagi pasangan yang sudah menikah. Tapi bagi yang belum menikah, sebaiknya lebih berhati-hati sebab tetap tidak resiko penularan penyakit seksual.

Menghilangkan rasa sakit

Manfaat lain dari seks adalah bisa menghilangkan rasa sakit. Rasa sakit bisa muncul ketika otak mengirim sinyal tersebut. Menurut sebuah penelitian, migrain bisa menurun intensitasnya dengan melakukan hubungan intim. Stimulasi seksual yang diberikan oleh pasangan bisa meringankan rasa sakit yang dirasakan. Namun begitu, seks tidak bisa menggantikan fungsi dari obat kimia sebab di dalam obat sudah terdapat berbagai kandungan yang bekerja secara langsung di pusat masalah. Jadi meskipun anda mengalami penurunan intensitas rasa sakit ketika berhubungan intim, namun jika masalah tersebut tidak hilang setelahnya, anda tetap perlu mengkonsumsi obat-obatan.

Reaksi otak ketika kita melakukan aktivitas seksual 2

image source: kamagraforyou.com

Menimbulkan rasa bersalah

Seks juga bisa menimbulkan rasa bersalah. Memang seks memberikan efek yang positif pada tubuh. Tapi jika tidak disikapi dengan baik, seks juga bisa membuat seseorang mengalami depresi. Ada banyak kasus dimana seseorang merasa bersalah setelah ia melakukan hubungan intim. Itu biasanya terjadi akibat konflik batin karena menganggap seks sebagai sesuati yang tidak terpuji atau tidak seharusnya dilakukan. Cara untuk mengatasinya adalah dengan menghilangkan pikiran-pikiran negatif tersebut. Seks merupakan hal yang natural dan dialami oleh berbagai spesies termasuk manusia. Jadi anda sebaiknya tidak berpikir negatif terkait aktivitas yang satu ini.

Meningkatkan daya ingat

Seks juga bisa meningkatkan kemampuan otak. Ada studi yang mengungkap bahwa hubungan seks secara rutin mampu meningkatkan kemampuan otak. Penelitian tersebut melibatkan hewan pengerat di mana hewan-hewan tersebut diberikan kesempatan untuk melakukan hubungan intim setiap hari selama dua minggu berturut-turut. Melalui riset tersebut, ditemukan fakta bahwa hewan pengerat ini mampu mengembangkan neuron pada hipokampus mereka. Ini merupakan wilayah otak yang secara langsung berkaitan dengan kemampuan mengingat.

Meningkatkan kualitas tidur

Seks juga bisa meningkatkan rasa kantuk. Anda sendiri mungkin sudah sering mengalami bahwa ketika selesai berhubungan intim, rasa kantuk datang dengan tiba-tiba. Nah, ini ada kaitannya dengan pelepasan serotonin dan oksitosin ketika selesai ejakulasi. Jadi wajar jika ketika berhubungan intim secara intens, anda akan mudah merasa lelah setelahnya dan segera ingin tertidur. Itu tadi informasi seputar reaksi otak ketika kita melakukan aktivitas seksual.