Pasien Berobat Harus Kemana?

Pasien Berobat Harus Kemana?

Ada pernyatakan bahwa kesadaran manusia Indonesia untuk pergi berobat mempunyai tiga tahapan. Pertama, kepercayaan diri untuk menyembuhkan diri sendiri. Mereka cenderung menggunakan kemampuan ‘titen’ untuk merawat penyakit. Kedua, pengobatan tradisional masih berada di hati pasien berobat di Indonesia. Dalih utama ialah alasan ekonomi tidak mampu menutupi biaya rumah sakit. Sehingga, pengobatan yang demikian menjadi tumpuan saat mereka tidak mampu mengobati dengan ilmu titen. Terakhir, gaya pengobatan professional.

Pengobatan ini mencakup penggunaan teknologi terbaru dan tenaga prosedural. Bisa dinyatakan bahwa psikologis pasien berobat dapat digeneralisasikan demikian. Model pemikiran demikian sebenarnya mempunyai dua mata pisau. Pertama, pasien dapat menekan pengeluaran biaya pengobatan, akan tetapi penyakit yang diderita dapat menjadi lebih buruk apabila tidak mendapatkan penanganan dengan segera. Selain itu, terdapat pula kemungkinan adanya salah penanganan sehingga pasien tidak berhasil sembuh dengan maksimal. Kasus ini sering terjadi pada penderita patah tulang. Meskipun tulang berhasil tersambung dan pasien dapat berjalan, akan tetapi sambungan tulang tersebut tidak merekat dengan baik. Sehingga terdapat benjolan pada lapisan luar diatas luka.

Akan tetapi, masa-masa ini terdapat gap kuat antara pemilihan dokter atau rumah sakit yang berbasis swasta atau negeri. Memang bukan suatu rahasia umum lagi bahwa infrastruktur dan pelayanan rumah sakit antara swasta dan negeri ketara perbedaannya. Banyak diantara kita yang menyatakan bahwa rumah sakit negeri tidak mempunyai pelayanan yang bersahabat, namun kenyataannya memberikan kemudahan soal pembayaran. Sebaliknya, pihak swasta menyapa para pasien dengan lemah lembut, namun ujung-ujungnya pasien harus membayar mahal. Kemudian, kemana pasien harus berobat? Jika pasien berobat tidak mempunyai uang asuransi atau tabungan untuk sembuh, adakah alternative lain?

Menanggapi hal ini, para petinggi kementrian dan kesehatan telah meramu berbagai layanan masyarakat yang melindungi hak para pasien berobat. Setidaknya, mereka patut mendapatkan layanan terbaik dan harga obat yang tidak mahal namun berkualitas. Sehingga, pasien dapat berobat dan merasakan kepuasan tersendiri saat sembuh. Akan tetapi, terdapat permasalahan mengenai fasilitas. Beberapa rumah sakit negeri tidak dilengkapi dengan alat canggih seperti CT Scan dan X-ray. Hal ini menjadikan para pasien yang membutuhkan hasil uji lab pun terganggu. Untuk mensiasati hal ini, sebenarnya pemerintah telah mencanangkan Kartu Sehat Indonesia. Kartu ini dapat difungsikan sebagai alat rujukan sekaligus kartu jaminan untuk mendapatkan pengobatan yang baik.

Apabila terdapat rumah sakit yang tidak memberikan hak pasien, maka rumah sakit tersebut akan mendapatkan sanksi tersendiri. Dimulai dari skors dari pemerintah, hingga pencopotan hak beroperasi. Adapun pasien berobat merasa kesulitan karena mereka tidak memahami bagaimana prosedur penggunaan kartu tersebut. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa petugas administrasi di rumah sakit juga terkadang merendahkan pasien. Seperti yang terjadi di puskesmas Jakarta baru-baru ini.

Pilih PUSKESMAS dan dokter umum

Alternatif lain yang dapat digunakan oleh pasien berobat adalah mengunjungi puskesmas. Berdasarkan ketetapan kementrian, puskesmas adalah pusat pelayanan masyarakat yang mempunyai zona layanan di satu kecamatan. Hal ini tentunya mempermudah pasien-pasien berobat untuk mendapatkan pertolongan dini. Selain itu, telah terdapat laporan bahwa puskesmas di Indonesia telah meningkat kualitas baik sarana maupun prasarana. Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya mulai menumbuhkan kepercayaan untuk berobat ke sana. Selain itu, pengobatan di puskesmas juga mendapatkan subsidi dan obat yang digunakan pun disuplai langsung dari pemerintah. Sehingga, obat-obatan di sana terhindar dari pemalsuan dan juga batas kadaluarsa.

Selain tempat tersebut, dokter umum juga menjadi alternative terbaik bagi pasien berobat. Bukannya tanpa alasan, setidaknya, dokter umum di kampung biasanya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Dengan soft promotion seperti dari mulut ke mulut, kemampuan dokter mandiri ini tidak diragukan lagi. Meskipun obat yang digunakan adalah obat-obat generic, akan tetapi obat-obatan tersebut juga berkualitas. Di sisi lain, terdapat pula pengobatan akupunktur yang telah menjadi buah bibir di masyarakat. Pengobatan ala Tiongkok ini menggunakan berbagai ramuan herbal yang dipadankan dengan tusuk jarum. Meskipun dianggap sebagai pengobatan tradisional, akan tetapi pengobatan masih menjadi alternatif terbaik.

Pasien berobat di Indonesia terbagi atas tiga sektor, pribadi, pengobatan tradisional, dan pengobatan professional yang dipengaruhi oleh tingkat ekonomi.