Lokalisasi Bagi Kehidupan Seks Pekerja Malam

Lokalisasi Bagi Kehidupan Seks Pekerja Malam

Diantara kita kemungkinan lebih banyak memandang sinis kehidupan seks pekerja malam. Mudah saja, apa yang mereka lakukan secara langsung telah melanggar moral, norma, nilai, dan agama dilingkungan. Meskipun demikian, selalu terdapat alasan mengapa mereka melakoni pekerjaan haram tersebut. Ekonomi merupakan alasan klasik untuk terjun ke dunia ini dan paling rendah adalah ketertarikan seks hingga mereka merasa ketagihan. Kehidupan seks pekerja malam lebih baik berada dalam satu lokasi daripada para pekerja keluar dari lokalisasi tanpa adanya pengawasan seperti kesehatan. Permasalahan kehidupan pekerja seks malam telah banyak diekspos baik dari media film, lagu, novel, hingga puisi. Apakah kita dapat membasminya hingga keakar?

Banyak yang menyatakan bahwa masalah seks merupakan masalah sosial yang berumur setua manusia itu sendiri. Boleh dibilang bahwa permasalhan ini tidak akan pernah hilang selama manusia masih ada. Permasalahan ini kerap dianggap sebagai penyakit masyarakat yang sulit untuk dibasmi. Tidak hanya merugikan manusia itu sendiri, akan tetapi juga pelaku seks pula. Hal ini menjadi salah satu dalih utama pemerintah seperti walikota Surabaya, Ibu Risma, untuk menutup lokalisasi Doli atau Gubernur Jakarta, Ahok, untuk membasmi Kalijodo. Kehidupan seks pekerja malam dimata masyarakat tentunya tidak hanya permasalahan seks belaka. Lebih jauh, kriminalitas menjadi jamur yang mengikutinya.

Pro tentang lokalisasi

Beberapa orang meyakini bahwa kehidupan seks pekerja malam lebih baik diatur dengan baik dalam satu tempat. Dengan mengkoordinir semua pelacur pada satu lokasi, hal tersebut memudahkan para penegak hukum dan dinas kesehatan untuk mengontrol kehidupan disana. Tak hanya itu, pemerintah juga lebih mudah untuk mengajak para pekerja seks malam mencari nafkah dengan cara yang lebih baik. Salah satunya dengan membekali mereka dengan ketrampilan berwirausaha seperti menjahit, membuat kue, dll.

Selain itu, dinas kesehatan dapat mensosialisasikan akan bahaya HIV dan AIDS kepada mereka. Sehingga, para pelaku dapat lebih berhati-hati saat melakukan hubungan intim. Adanya intensitas kunjungan dinas kesehatan ini diharapkan seorang pelaku yang terjangkit HIV dapat ditangani lebih dini. Sehingga, yang bersangkutan tidak akan menularkan virus tersebut kepada para tamu. Pendataan seperti cukup penting dilakukan guna mencegah penularan kepada orang lain. Kehidupan seks pekerja malam tetap saja menjadi momok bagi siapa pun. Mereka meyakini bahwa kehidupan malam akan membawa dampak buruk bagi orang-orang disekitarnya terutama anak kecil

Kontra

Kekhawatiran tersebut cukuplah mendasar, mengingat kehidupan yang demikian itu akan membawa permasalahan lain. Beberapa diantaranya ialah: (1) mudahnya akses perdagangan minuman keras, (2) maraknya pengedar narkoba, dan (3) rusaknya moral generasi muda yang hanya terpaku pada dunia seks. Itulah mengapa banyak diantara mereka menyarankan dengan keras bahwa kehidupan seks pekerja malam haruslah dihilangkan. Tanpa adanya hal tersebut, maka suatu keadaan sosial akan lebih tertata dengan baik. Sayangnya, banyak orang merasa bahwa ketiga hasil tersebut tetap muncul tanpa adanya lokalisasi. Tentunya hal ini didasari bahwa kehidupan seks seperti itu akan selalu muncul ditengah masyarakat baik urban maupun modern.

Pun, masalah utama kehidupan seks pekerja malam muncul adanya kebutuhan seseorang untuk menyalurkan hasratnya dan disisi lain adanya himpitan ekonomi yang tidak dapat diselesaikan secara cepat. Selain itu, membiarkan pekerja seks malam untuk hidup diluar lokalisasi bukanlah pilihan yang bijak. Lepasnya mereka diluar tempat yang disediakan dapat menyulitkan pemerintah untuk menanggulanginya secara dini. Dari pembahasan dua arah tersebut, saya pribadi cenderung memilih untuk mengatur daripada membiarkannya lepas tanpa aturan. Dengan mengumpulkan mereka dalam satu wadah, baik pemerintah dapat mengatur dan menjaga orang-orang disekitarnya untuk tetap aman.