Kapan Gairah Seks Pasangan Mulai Tak Sejalan?

Kapan Gairah Seks Pasangan Mulai Tak Sejalan?

Jakarta – Semua terasa indah saat pernikahan baru berusia seumur jagung. Pasangan selalu seiya sekata dalam berbagai hal, termasuk seks. Namun ketika usia pernikahan semakin bertambah, manisnya cinta mulai terasa berbeda. Perbedaan pendapat hingga pemikiran bermunculan dan tak jarang menyebabkan pertengkaran.

Salah satu perbedaan yang muncul seiring bertambahnya usia pernikahan itu adalah mengenai gairah seks. “Saat pasangan masih berusia muda, kebanyakan dari mereka selalu ingin bercinta. Tapi saat usia bertambah, beberapa orang menganggap seks bukan lagi prioritas,” ujar Pepper Schwartz, profesor sosiologi di Universitas Washington yang juga pakar percintaan untuk AARP (American Association of Retired Persons).

Perbedaan pada keinginan bercinta, dikatakan Profesor Schwartz, mulai muncul ketika salah satu pasangan mengalami kenaikan berat badan, menderita sakit jantung atau memiliki masalah ereksi. Orang-orang yang mengalami hal tersebut akan mengucapkan kalimat penolakan pada pasangannya saat diajak bercinta.

Kalimat penolakan ini, menurut Schwartz bisa menyengat perasaan pasangan yang ditolak. “Mereka merasa terjebak, dipermalukan. Karena tidak ada siapapun yang ingin ditolak saat mereka meminta seks. Apalagi kalau penolakan ini berulang,” katanya seperti dikutip Huffington Post.

Pendapat tidak jauh berbeda disampaikan psikolog Nicky Ruscoe. Psikolog yang kerap memandu acara di ABC’s Health itu mengatakan perubahan gairah seks ini terjadi setelah 18 bulan masa bulan madu. Gairah pasangan tidak lagi sejalan seperti dulu saat baru menikah yang sama-sama selalu merasa bergairah dan ingin bercinta.

Perbedaan gairah antara suami-istri ini jangan langsung dianggap ada masalah dalam pernikahan. Menurut Nicky, 90% pasangan pasti pernah menghadapi masa adanya perbedaan libido tersebut. Penyebab perbedaan gairah ini berbagai macam mulai dari stres, kelelahan, depresi, sakit atau karena mengonsumsi obat tertentu. Perubahan hormon juga mempengaruhi gairah, terutama pada wanita.

Dr. Dudley Danoff, urologis dan pendiri dari Cedars-Sinai Tower Urology Medical Group di Los Angeles, menambahkan dalam hal perbedaan gairah seks ini, pihak pria lah yang memang lebih sering merasakannya. Mereka yang lebih sering ditolak oleh pasangannya.

“Pria bisa memilih berhenti untuk mengajak bercinta ketimbang harus menghadapi penolakan. Mereka jadi malu untuk menunjukkan kasih sayang. Dan tentu saja, pria bisa tergoda untuk mencari seks ke pihak lain,” ucapnya.

Sementara itu menurut psikolog Barry McCarthy, perbedaan gairah yang sudah tak sejalan ini menjadi penyebab nomer satu pasangan mendatangi dirinya atau meminta bantuan terapis. Diakuinya memang pihak wanitalah yang biasanya disalahkan atas masalah ini. Meski kenyataannya seiring bertambahnya usia, terutama ketika sudah mencapai 50 tahun, prialah yang justru menjauh dari seks karena masalah performa yang tak prima lagi.

Saat perbedaan gairah ini terjadi yang sebaiknya dilakukan pasangan adalah bukan dengan saling menyalahkan. Jika salah satu pihak menyebut mereka yang mengalami penurunan libido sebagai ‘abnormal’, sikap tersebut justru bisa menghancurkan pernikahan. Cara terbaik yang sebaiknya dilakukan adalah kenali dan pahami kalau Anda dan suami adalah dua orang berbeda yang memiliki tingkat gairah berbeda juga. Pasangan juga sebaiknya saling memahami bahwa mereka merindukan keintiman dan bertanggungjawab mengatasi masalah perbedaan gairah tersebut.

Trackbacks and pingbacks

    No trackback or pingback available for this article.

    Leave a reply