Ciuman Bisa Tularkan 80 Juta Bakteri, Tapi Efek Positifnya Lebih Banyak

Ciuman Bisa Tularkan 80 Juta Bakteri, Tapi Efek Positifnya Lebih Banyak

Jakarta – Baru-baru ini sebuah studi mengungkapkan fakta mengejutkan soal ciuman. Studi yang dilakukan sejumlah ilmuwan Belanda mengungkap bahwa satu ciuman selama 10 detik bisa memindahkan 80 juta bakteri antar pasangan. Pertukaran bakteri lewat air liur ini pun membuat banyak orang ‘bergidik’, bahwa di balik aktivitas sensual itu ternyata tersembunyi fakta yang sama sekali tidak romantis.

Namun jangan terburu berpikir negatif karena pertukaran bakteri tersebut tidak sepenuhnya berdampak buruk. Ciuman justru membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit. Risiko penularan penyakit justru lebih besar lewat jabatan tangan ketimbang berciuman.

Sheril Kirshenbaum, penulis ‘The Science of Kissing’ menjelaskan kenapa pertukaran 80 juta bakteri lewat ciuman lebih tidak berbahaya ketimbang berjabat tangan. Meskipun terdengar kurang higienis, hanya sedikit bakteri yang bisa menularkan penyakit ketika berciuman tapi justru memberikan sejumlah manfaat kesehatan baik secara fisik maupun mental.

Saat berciuman, terjadi tekanan pada bibir yang menstimulasi gerakan seperti ketika bayi menyusu atau menyedot botol susu. Saat menyusu, otak bayi akan mengirimkan sinyal-sinyal yang menenangkan dan menyebarkan emosi positif ke seluruh tubuh. Itulah sebabnya kenapa bayi pada umumnya langsung tenang dan terdiam ketika disusui oleh ibunya.

Bagian otak yang mengatur emosi bayi saat menyusu ini sama dengan ketika pasangan berciuman. Emosi positif yang muncul melingkupi rasa tenang, nyaman dan bahagia. Ciuman juga bersifat adiktif karena bibir merupakan zona erotis yang paling terekspos di antara bagian tubuh lainnya sehingga pasangan ingin melakukannya lagi dan lagi.

Selain itu bibir juga dipenuhi syaraf-syaraf yang sensitif. Kontak sekecil apapun –bahkan hanya dengan sentuhan tangan– pada bagian tubuh ini sudah cukup untuk memunculkan gairah, jantung berdegup kencang, rasa bahagia dan efek ‘butterfly’ pada perut. Dengan catatan, apabila dilakukan oleh orang yang disukai atau antar pasangan yang saling mencintai.

Bisa dibayangkan apabila area sensitif itu disentuh oleh bibir juga alias berciuman, maka bagian terbesar pada otak yang berkaitan dengan informasi sensorik akan diaktifkan. Alhasil hormon dan neurotransmitter yang menimbulkan emosi positif seperti oksitosin (menciptakan perasaan nyaman, gairah, empati, ikatan dan seksualitas) dan serotonin (hormon kebahagiaan) juga ikut aktif.

Jadi bisa disimpulkan apabila kedua pasangan dalam kondisi tubuh yang sehat, maka berciuman bisa membuat pertukaran bakteri baik. Namun berciuman sebaiknya dihindari apabila salah satu pasangan terserang flu, sariawan atau terdapat luka pada bibir/mulutnya untuk menghindari kemungkinan penularan penyakit berbahaya, misalnya hepatitis B/C.

Trackbacks and pingbacks

    No trackback or pingback available for this article.

    Leave a reply