6 Kesalahan Persepsi Seks Gara-gara ‘Fifty Shades of Grey’

Jakarta – Film Fity Shades of Grey yang kini tengah jadi tontonan laris di seluruh dunia dikritik sejumlah pakar seks. Layar lebar yang diangkat dari novel itu dianggap menyesatkan persepsi orang tentang bagaimana sebenarnya perilaku seks BDSM (bondage. discipline, sadomasochism, masochism).

“Banyak orang akan menonton film ini dan mungkin ada lebih banyak lagi orang yang sudah membaca setidaknya satu dari tiga buku trilogi Fifty Shades. Sebagai pakar pendidikan seks, aku ingin menekankan pada semuanya bahwa apa yang kalian lihat di layar hanya sebuah fantasi,” ujar pakar pendidikan seks Jessica Drake yang sudah merilis video Jessica Drake’s Guide to Wicked Sex: BDSM for Beginners DVD.

Jessica mengatakan film Fifty Shades of Grey menunjukkan sisi buruk dari pelaku BDSM yang sebenarnya tidak seperti yang ditampilkan. Dia berharap film karya Sam Taylor-Johnson hanya menjadi inspirasi pasangan untuk menghangatkan hubungan seks. Tapi tidak menjadi panduan untuk mencoba aktivitas seks BDSM.

Apa saja kesalahan persepsi yang ditimbulkan film dengan bintang Jamie Dornan dan Dakota Johnson itu? Berikut uraiannya dari para pakar:

1. BDSM = Komunikasi dan Kepercayaan
“Dalam buku diceritakan Ana diberikan kontrak yang semuanya tertera jelas dan Christian sebagai dominan dalam perilaku seks BDSM tidak menerima jawaban tidak atas semua apa yang sudah disepakati di kontrak. Seharusnya meskipun kita hidup dalam dunia di mana kata ‘tidak’ sudah disepakati, tetap saja ada kata-kata aman yang bisa digunakan dan batasan yang harus dihormati,” ujar Jessica. Dalam BDSM, ditekankan Jessica, komunikasi dan kepercayaan justru menjadi dasar dari aktivitas seks tersebut.

2. Empati dan Perlindungan
“Isunya, menurutku adalah, interaksi di antara karakter di Fifty Shades,” kata Aiden Starr, pakar gaya hidup BDSM. Berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam novel karya E.L. James, itu orang yang menjadi dominan dalam seks BDSM biasanya sudah terlatih dan memiliki empati yang mendalam pada submissive. Para dominatrix (orang yang menjadi dominan dalam BDSM) umumnya juga sangat protektif pada submissive mereka. Dan hubungan antara dominan dengan submissive ini sama kuatnya dengan jalinan cinta pasangan pada umumnya.

3. Submissive Tidak Lemah
Dalam film dan novel, sosok Anastasia Steele yang diminta Christian Grey menjadi submissive-nya digambarkan sebagai wanita lemah dan mudah dimanipulasi. Kenyataannya para submissive dalam BDSM bukanlah orang yang lemah. “Meskipun mereka bukan dominan, justru dalam seks kinky ini mereka lebih kuat dalam aspek lain di kehidupan. Faktanya submissive lah yang memiliki pilihan untuk mengontrol atau mempercayakan diri mereka pada dominan. Banyak submissive yang kemudian lebih mengontrol dominan,” ujar pakar seks kinky Cassie Fuller seperti dikutip Ask Men.

4. BDSM Tidak Mengikat
Christian Grey sebagai pelaku seks BDSM diceritakan dalam kisah Fifty Shades of Grey menawari Anastasia kontrak. Dalam kontrak tersebut ditulis secara detail bagaimana Anastasia sebagai seorang submissive harus bersikap. Awalnya Christian tidak mau bernegosiasi. Pilihan untuk Anastasia hanya ada dua: setuju atau tidak setuju. Dalam kehidupan nyata gaya hidup BDSM, semuanya bisa dikompromikan. Dominan dan submissive bisa mengeksplorasi kebutuhan mereka dan mencari tahu apa yang mereka rasa bisa dilakukan bersama. “Meskipun alat pukulan dan cambuk populer dalam permainan kinky, bukan berarti hanya benda itu yang digunakan. Kinky melibatkan apapun yang bisa menambah bumbu dalam hubungan seks. Bisa saja hanya dengan bulu, es batu dan alat penutup mata,” jelas Cassie.

5. BDSM Bukan Tentang Pria Memanipulasi Wanita
Dalam kisah Fifty Shades of Grey digambarkan hubungan antara Christian dan Anastasia lebih menguntungkan si pria. Christian seolah-olah hanya mau melakukan apa yang dilakukannya, bukan apa yang wanitanya inginkan. Ada juga adegan yang menggambarkan Christian memanfaatkan kurang pengalamannya Anastasia dalam menjalin hubungan dengan memarahinya saat dia menangis. Apa yang ditampilkan dalam Fifty Shades tersebut ada dalam hubungan yang salah satunya suka bersikap kasar, tapi bukan BDSM.

“Aku sudah pernah melihat dan mengobrol dengan pria dan wanita yang menjadi submissive dan nyatanya justru submissive lah yang menjadi pihak pengontrol,” ujar Jessica. Wanita yang menjadi submissive dalam BDSM juga bukan tidak berdaya seperti Anastasia.

6. BDSM Bukan Perjanjian Tanpa Cinta
Christian Grey diperlihatkan sebagai sosok pelaku BDSM yang tidak mau terlibat hubungan asmara. Menurut Jessica, apa yang ditampilkan itu salah kaprah. Menurutnya apa yang terjadi pada Christian tidak ada hubungannya dengan BDSM. “Hal itu lebih karena isu pribadinya sendiri. Aku sudah mengobrol dengan pasangan suami-istri, kekasih dalam berbagai level BDSM dan mereka, saling mencinta,” kata Jessica.

Trackbacks and pingbacks

    No trackback or pingback available for this article.

    Leave a reply